Kamis, 1 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
123bbett.com123bbett.com
123bbett.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Saya Lebih Dekat dengan Neneknya, Ini yang Sa...

Anak Saya Lebih Dekat dengan Neneknya, Ini yang Saya Pelajari

Pengalaman pribadi saat anak lebih dekat dengan neneknya, dan pelajaran berharga tentang pola asuh di kampung.

Anak Saya Lebih Dekat dengan Neneknya, Ini yang Saya Pelajari

Dulu saya sempat merasa tersinggung. Anak saya, Raka, umur lima tahun waktu itu, lebih milih tidur di kamar neneknya daripada kamar kami. Setiap malam dia nangis kalau dipaksa tidur sama saya dan istrinya. Tapi begitu dibawa ke kamar ibuk saya, dia langsung anteng, bahkan ketawa-ketawa sebelum tidur.

Saya lahir dan besar di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Istri saya orang kota, tapi kami memutuskan merantau balik ke kampung halaman saya setelah pandemi. Alasannya sederhana: biaya hidup lebih murah, udara lebih bersih, dan Raka bisa tumbuh dekat dengan kakek-neneknya. Yang tidak saya sadari, keputusan itu membawa pelajaran besar buat saya sebagai ayah.

Nenek Selalu Ada, Saya Sering Hilang

Saya kerja di toko bangunan milik om saya. Buka jam tujuh pagi, tutup jam enam sore. Belum lagi kalau ada pengiriman material ke luar kota, bisa pulang malam. Istri saya bantu jualan online, jadi dia juga sibuk dengan HP dan paket-paket.

Nah, di tengah kesibukan itu, ibuk saya—neneknya Raka—selalu ada. Dia yang bangunin Raka, mandiin, siapin sarapan, antar ke TK, tungguin pulang, temenin main, bacain cerita, sampai tidur. Setiap hari. Tanpa pernah mengeluh.

Waktu saya pulang sore, Raka biasanya lagi main di halaman sama ibuk. Saya cuma bisa melambaikan tangan dari motor, lalu langsung mandi dan istirahat. Kadang saya pikir, "Ya namanya juga kerja buat keluarga." Tapi malam itu, waktu Raka nangis minta tidur sama neneknya, saya sadar ada yang salah.

"Kamu itu cuma mampir di hidup anakmu, Nak. Yang nemenin dia tumbuh itu ibuk."

Kalimat itu keluar dari mulut ibuk saya waktu saya curhat. Nggak kasar, tapi nusuk banget. Saya diam. Nggak bisa bales apa-apa.

Bukan Soal Siapa yang Lebih Sayang

Saya sempat salah paham. Saya pikir, anak saya lebih sayang neneknya daripada saya. Padahal bukan itu masalahnya.

Anak kecil itu nggak mengukur sayang dari siapa yang paling banyak memberi uang atau mainan. Mereka mengukur dari siapa yang hadir. Siapa yang ada waktu mereka nangis, waktu mereka takut, waktu mereka butuh dipeluk. Kehadiran itu yang mereka ingat, bukan gaji yang saya bawa pulang tiap bulan.

Ini pelajaran pertama yang saya dapat: kualitas waktu itu penting, tapi kuantitas waktu juga nggak bisa diremehkan. Orang bilang "yang penting quality time", tapi buat anak lima tahun, quality time nggak bisa dibangun kalau ketemunya cuma sejam sehari dan itu pun sambil main HP.

Yang Saya Ubah dari Rutinitas Kami

Saya nggak bisa langsung resign atau ngurangi jam kerja. Tapi ada beberapa hal kecil yang saya mulai lakukan, dan pelan-pelan hasilnya kelihatan:

  • Bangun lebih pagi. Sekarang saya bangun setengah lima, jadi bisa sarapan bareng Raka sebelum dia berangkat sekolah. Cuma 20 menit, tapi dia selalu cerita hal-hal random yang bikin saya ketawa.
  • Mandiin dan tidurin sendiri dua kali seminggu. Nggak setiap hari, karena kadang saya memang capek. Tapi dua kali seminggu itu jadi momen paling ditunggu Raka.
  • Matikan HP setelah maghrib. Ini berat, tapi penting. Anak nggak bisa cerita kalau lihat bapaknya sibuk scroll layar.
  • Libatkan ibuk, bukan saingin ibuk. Saya nggak lagi merasa bersaing dengan ibuk saya. Justru saya minta dia cerita soal kebiasaan Raka, makanan favoritnya, hal-hal yang dia takutin.

Perubahan-perubahan kecil ini nggak langsung bikin Raka pindah tidur ke kamar kami. Butuh berbulan-bulan. Tapi sekarang, dia udah mau tidur sama saya dan istrinya, walau kadang masih minta ditemenin neneknya dulu sampai ngantuk.

Pelajaran dari Kampung yang Mungkin Beda dengan Kota

Di kampung, pola asuh itu sering kali kolektif. Nenek, kakek, om, tante, tetangga, semua ikut andil. Ini sebenarnya kekuatan besar, terutama buat orang tua yang harus kerja. Anak nggak merasa kesepian, dan nilai-nilai keluarga diturunkan langsung dari generasi ke generasi.

Tapi ada sisi yang perlu kita waspadai juga. Kadang, karena semua orang ikut ngurus, orang tua—terutama ayah—jadi merasa "sudah ada yang ngurus, jadi saya nggak perlu ikut campur". Ini yang saya alami. Dan ini jebakan yang halus banget.

Anak tetap butuh figur orang tuanya. Bukan cuma sebagai pencari nafkah, tapi sebagai sosok yang dia kenal, yang dia percaya, yang dia rasa aman kalau dekat. Nenek bisa jadi pengasuh terbaik, tapi dia nggak bisa menggantikan peran ayah dan ibu sepenuhnya.

Jangan Tunggu Anak Gede Baru Mau Dekat

Saya punya teman yang anaknya udah SMP. Dia baru sadar anaknya jauh, nggak mau cerita apa-apa, dan lebih nyaman sama teman-temannya. Waktu dia coba mendekati, anaknya sudah punya dunianya sendiri. Pintunya udah ketutup.

Waktu kecil itu masa emas. Di situ anak masih mau dengerin, masih mau dipeluk, masih mau cerita apa saja. Kalau kita lewatkan masa itu, nggak ada tombol rewind. Kita cuma bisa menyesal.

Makanya saya sekarang nggak mau lagi bilang "nanti kalau sudah besar". Karena "nanti" itu nggak pernah datang kalau kita nggak mulai dari sekarang. Mulai dari hal kecil. Mulai dari hal yang kelihatannya sepele.

Yang Akhirnya Saya Pahami

Anak saya dekat dengan neneknya bukan karena saya gagal jadi ayah. Justru itu pengingat bahwa saya punya kesempatan untuk hadir lebih banyak, lebih sering, lebih sadar.

Neneknya ngajarin saya satu hal yang nggak pernah saya dapat dari buku parenting mana pun: bahwa menjadi orang tua itu bukan soal sempurna, tapi soal konsisten hadir. Nggak harus setiap saat, tapi cukup sering sampai anak tahu bahwa kita ada buat dia.

Kalau kamu juga sedang di posisi saya—kerja keras, pulang capek, dan merasa anak lebih dekat dengan orang lain—jangan langsung nyalahin diri sendiri atau nyalahin anak. Lihat lagi rutinitas harianmu. Mungkin ada satu-dua celah kecil yang bisa kamu isi dengan kehadiran, bukan dengan barang.

Karena pada akhirnya, anak nggak butuh ayah yang sempurna. Dia cuma butuh ayah yang ada.

Tags: parenting keluarga pola asuh anak kampung

Baca Juga: culturecast.org