Kamis, 5 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
123bbett.com123bbett.com
123bbett.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Sering Kangen Saat Ortu Dinas? 6 Ceklis Pengi...

Anak Sering Kangen Saat Ortu Dinas? 6 Ceklis Pengingat

Sering dinas luar kota bukan alasan keluarga jadi renggang. Ini ceklis kecil yang gue pelajari dari pengalaman sendiri.

Anak Sering Kangen Saat Ortu Dinas? 6 Ceklis Pengingat

Dulu gue mikir, yang namanya jadi orang tua itu otomatis bisa. Ternyata enggak. Apalagi buat gue yang kerjaannya sering bikin koper selalu dalam keadaan setengah siap. Kadang baru Senin di rumah, Kamis udah harus terbang lagi. Anak gue waktu itu masih TK, dan tiap gue pamit dia cuma nanya satu hal: "Ayah pulang hari apa?"

Pertanyaan itu sederhana, tapi tiap kali diulang rasanya kayak ditusuk pelan-pelan. Gue pikir cukup dengan video call tiap malam, ternyata enggak. Ada banyak hal kecil yang gue lewatin tanpa sadar, dan baru kerasa efeknya beberapa bulan kemudian. Anak jadi lebih dekat sama pengasuhnya, lebih diam kalau gue telepon, dan mulai males cerita soal sekolah.

Dari situ gue mulai sadar, hubungan keluarga itu bukan soal seberapa sering ketemu, tapi seberapa konsisten kita hadir walau enggak selalu ada di rumah. Ini ceklis yang gue susun dari kesalahan-kesalahan gue sendiri. Mungkin kamu yang juga sering bepergian bisa pakai ini sebagai pengingat.

Baca juga: Sibuk Bukan Alasan, 5 Cara Kilat Dekat dengan Anak

1. Ceklis sebelum berangkat: pamit yang jelas, bukan sekadar "Ayah pergi dulu ya"

Ini kelihatan sepele, tapi efeknya besar. Dulu gue sering pamit buru-buru karena taksi udah nunggu di depan. Anak cuma lihat punggung gue keluar pintu. Hasilnya, dia kayak kehilangan pegangan.

Sekarang gue selalu luangkan lima menit buat duduk bareng dia sebelum berangkat. Gue kasih tahu mau ke mana, berapa hari, dan kapan balik. Gue tunjukin tanggal di kalender, kadang gue gambar pesawat kecil di tanggal kepulangan. Anak jadi punya bayangan yang konkret, bukan cuma janji "sebentar lagi pulang".

Yang paling penting: jangan bohong soal durasi. Kalau memang seminggu, bilang seminggu. Anak yang dibohongi soal waktu bakal lebih kecewa pas tahu kenyataannya.

2. Ceklis saat di jalan: telepon rutin itu bagus, tapi jangan cuma nanya "udah makan?"

Gue akui, gue sempat jadi ayah yang teleponnya cuma berisi tiga pertanyaan: udah makan, udah mandi, udah belajar. Anak gue jawab singkat, lalu nyerahin HP ke ibunya. Selesai. Enggak ada obrolan.

Gue ubah strategi. Sekarang gue telepon buat hal-hal yang dia suka. Kadang gue minta dia ceritain kartun yang dia tonton, atau gue tunjukin pemandangan dari jendela hotel. Kadang gue minta dia nyanyi lagu yang lagi dia hafal. Obrolan jadi lebih hidup, dan dia mulai nungguin telepon gue, bukan menghindarinya.

Yang gue pelajari: anak enggak butuh laporan harian dari orang tuanya. Anak butuh rasa bahwa orang tuanya masih penasaran sama dunianya.

3. Ceklis waktu pulang: hadir penuh, bukan setengah-setengah

Ini jebakan yang sering enggak kita sadari. Kita pulang ke rumah, tapi kepala masih di kantor. HP masih bunyi terus, laptop masih kebuka. Anak udah nungguin dari kemarin, tapi yang dia dapat cuma ayah yang duduk di sofa sambil balas email.

Gue pernah kena tegur anak gue sendiri. Dia bilang, "Ayah kalau di rumah kok masih kerja terus?" Gue enggak bisa jawab apa-apa. Sejak itu gue bikin aturan sendiri: satu jam pertama setelah sampai rumah, HP gue taruh jauh. Enggak peduli ada urusan apa. Satu jam itu buat dia.

Kualitas waktu memang enggak bisa diganti dengan kuantitas. Tapi kalau kualitasnya juga enggak ada, ya sama aja bohong.

4. Ceklis rutinitas kecil yang tetap jalan walau jarak jauh

Anak gue suka banget cerita sebelum tidur. Dulu gue yang bacain buku tiap malam. Pas gue sering dinas, ritual itu hilang, dan dia sempat susah tidur. Gue ganti dengan cara lain: gue rekam suara gue baca cerita, lalu ibunya putar tiap malam. Kadang gue video call pas dia mau tidur, cuma buat bilang selamat malam.

Ritual kecil kayak gini kelihatan enggak penting, tapi buat anak itu tanda bahwa ada yang tetap sama walau ayahnya lagi jauh. Rutinitas adalah jangkar. Kalau semua berubah tiap kali gue pergi, anak jadi bingung dan merasa kehilangan.

Contoh ritual yang bisa kamu coba:

  • Video call singkat sebelum tidur, cukup lima menit
  • Rekaman suara cerita atau lagu pengantar tidur
  • Kirim foto kegiatan harian lewat chat, biar anak lihat apa yang kamu lakukan
  • Bikin "kalender kepulangan" yang bisa dicoret anak tiap hari

5. Ceklis melibatkan pasangan, bukan menyerahkan semuanya

Gue sempat salah kaprah. Karena gue sering enggak di rumah, gue serahin semua urusan anak ke istri gue. Pengasuhan jadi kayak tugas satu orang. Padahal istri gue juga kerja, juga capek, dan juga butuh bantuan.

Yang gue pelajari, pasangan bukan pengganti kehadiran kita. Dia partner. Jadi gue mulai ikut urusan kecil dari jauh: nanya jadwal kontrol dokter, ikut mutusin les anak, bantu cari solusi kalau anak lagi susah belajar. Istri gue jadi enggak merasa sendirian, dan anak lihat bahwa kedua orang tuanya tetap satu tim.

Kalau pasangan sampai kelelahan dan hubungan kalian jadi renggang, anak juga yang kena imbasnya. Jadi ini bukan cuma soal anak, tapi soal keluarga secara utuh.

6. Ceklis minta maaf kalau memang salah, dan jangan gengsi

Ini yang paling susah buat gue. Orang tua kan sering merasa harus selalu benar. Padahal kita juga bisa salah, lupa janji, atau telat telepon. Dulu gue pikir minta maaf ke anak bakal bikin gue kehilangan wibawa. Ternyata sebaliknya.

Waktu gue lupa janji buat nonton pertunjukan sekolahnya, anak gue diam seminggu. Gue akhirnya duduk di sampingnya dan bilang terus terang kalau gue salah, bukan cuma bilang "maaf ya" sambil lalu. Dia nangis, tapi setelah itu dia balik cerita lagi. Minta maaf yang tulus itu justru bikin anak percaya, karena dia tahu orang tuanya jujur.

Jadi kalau kamu sering bepergian dan merasa hubungan sama anak mulai renggang, coba cek satu-satu poin di atas. Enggak harus langsung semua. Mulai dari satu yang paling mungkin kamu lakukan minggu ini. Hubungan keluarga itu dibangun dari hal-hal kecil yang diulang terus, bukan dari satu momen besar yang jarang terjadi.

Tags: parenting jarak jauh hubungan keluarga orang tua dinas mengasuh anak quality time